Malam ini aku terdiam dan terpana
Mengingat kisah yang terjadi sebelumnya disana
Saat malaikat kecil coba mencabut nyawa
Pisahkan jiwa dari raga yang berkelana
Melesat bagai elang, berpindah dan menghilang
Tanpa suara menghadang, tingalkan bayang-bayang senang
Bak melawan waktu, nyaliku pun ikut tertantang
Sedikit bergoyang, nyawa bisa melayang
Seolah sulit menapak
Meskipun telah kucoba jalan setapak
Mereka semua hanya bisa berkata 'fuck'
Tanpa melihat situasi dan dampak
Semua di gulung dengan ombak
Menerjang, menghantam bak peluru tembak
Aku sudah berusaha berontak
Mengabarkan melalui sebuah kontak
Raga ini seakan melayang sejenak diudara
Tanpa kuasa dan daya untuk berkata
Terdiam, terjatuh tanpa bisa menutup mata
Semua tampak nyata dalam kehendak dan kuasa-Nya
Sang malaikat kecil tampak seolah malu-malu berdiri disitu
Tinggalkan goresan biru dan sulaman kelabu
Persetan dengan orang yang ada disekitarku waktu itu
Menoleh sesaat, menggeleng dan berlalu
Seperti inikah kehidupan sosial dikota pembantu
Sok tahu dan hanya membuang waktu
Menoleh dan berlalu bersama rotasi bumi yang terus berpacu
Memang sulit dimengerti hidup dikota batu
Mau maju, yang lain harus tertipu
Berkembang pun via eksploitasi semu
Tanpa arah dan tujuan yang masih keliru
Dasar para pembantu !
Sok tahu dan tetap bau
Berkembang dalam lubang
Berdiam dalam tembang
Semua seperti menjadi lambang
Simbol pasti bagi mereka yang terbuang
Raga ini masih terbaring tanpa kuasa
Seakan tak berdaya meskipun kau kaya
Karena kita kini sudah bicara soal nyawa
Dan yang lain masih sibuk dengan sebuah dansa
Hati ini seolah ingin teriak dan dan berkata : Seperti inikah manusia
Tanpa cakar, bisa menggoreskan luka
Bagaikan taring, kau terus hasilkan kuasa untuk kaya raya demi kata “jaya”
Seperti mengintai 'tuk menerjang babi, diburu dan dinikmati tanpa yang lain duduk bersama
Memang semua ini tak akan pernah habis cerita
Tinggalkan duka dan luka yang membara
Hingga ku rasa perlu untuk taklukan para serigala
Persetan dengan mereka yang seolah peduli
Omong kosong untuk apa yang mereka ucapkan tadi
Partisipasi mereka sepertinya sudah basi
Kaki ini harus tetap menapak
Tak perlu serempak jika tak punya berdampak
Terus mencoba dan berikan waktu menjawab semuanya
Pantang menyerah dan tetap berusaha
Siapkan daya tuk hancurkan para pendosa
Gemerlapan lampu merah-putih seolah membangunkan tidur panjangku
Kusadari kini bahwa salju harusnya telah turun disisi kiriku
Tiba saatnya untuk berkumpul dan bernostalgia bersama keluarga tercinta
Sayangnya “barrack” mas dirman menuntunku untuk terus berjuang tanpa cerita
Berperang melawan kebodohan, meskipun ku tahu itu hanya simbol semata
Orientasinya kini hanyalah harta
Buat aula, surat kuasa, hingga membagi derita untuk mahasiswa
Semua terangkum dalam satu kata, Gila
Rasionalitas kini menjadi semu
Ada komoditas, tujuanmu tak akan buntu
Meskipun semua seolah ingin membantu
Namun ku tahu itu hanya menipu
Tertawa sejenak dan kemudian mengharu
Sulit berkata tanpa ada kuasa disana
Ada daya, kaupun siap disembah bak raja
Tanpa kuasa kau adalah hina dan siap ternoda
Siap ditimpa dan hidup sengsara
Itulah realitas kehidupan
Padahal hanya untuk sebuah makan
Tampak sulit dicari, bahkan hingga keselokan
Jan (terlalu)
Untuk apa ada organ jika makan sulit terpenuhi
Cukup sudah membodohi diri
Jangan pula bodohi orang-orang disini
Mari bersatu, bangun koalisi untuk tujuan non-pribadi (bersama)
Baiklah, aku rasa sudah saatnya menutup kata
Kembali membuka mata terhadap realita kita
Selamatkan dunia dengan cita dan cinta bersama
Peduli tanpa memandang harta
Bekerja tanpa melirik strata
Saatnya berdaya, mari bekerja
Satukan suara, Indonesia Raya
...
Daniel MT Sinaga]
desember, 2010