Tuesday, September 13, 2011

Retorika Koteka Merdeka




Hari ini langit tampak kembali menghitam
Tampak sebuah kesedihan yang sangat mendalam
Seorang papua terbunuh karena kekuasaan yang terbenam
Sebuah kisah klasik politik yang kelam

Dalam hati ini masih bertanya-tanya tanpa henti, ada apa dengan papua kini
Saudara sendiri terbunuh demi hasrat politik berduri
Apakah disana sudah tidak ada kata kompromi
Apakah membunuh kini sudah menjadi prasyarat pergerakan perjuangan sejati
Inikah yang mereka sebut dengan demokrasi
Seperti inikah perjuangan hati
Saudara sendiri seolah menghilang dalam esensi ambisi

Setiap hari seolah terdengar teriakan MERDEKA !
PAPUA MERDEKA tetap menjadi jargon utama semangatnya
Provokasi dan ambisi menjadi motor penggeraknya
Katanya yang penting sejahtera semata, entah untuk sesama atau lingkar kelompok pengikutnya saja

Hingga kini mereka masih sibuk untuk mengumpulkan massa
Berjuang dengan kata dan manipulasi data
Yang bicara hanyalah senjata
Selalu saja sejarah yang jadi tersangka utamanya
Semua seolah salah Jakarta, meskipun ada wakil papua didalamnya

Inikah cara kuasa untuk membodohi diri
Seolah punya hati untuk mandiri, cenderung tak peduli terhadap kampung halaman sendiri
Mereka masih senang berkelahi dalam simpul manipulasi
Terperangkap dalam ambisi saudara kita di luar negeri

Papua itu Indonesia
Tak ada kompromi untuk bintang kejora
Tak ada negosiasi bila mengganggu kedaulatan bangsa
Ini memang tanggung jawab Jakarta, lalu pejabat papua kemana saja ?
Apakah papua masih sibuk berbagi cerita tentang mimpi bintang kejora
Tanpa tindakan nyata berpartisipasi untuk kata sejahtera

Papua itu Irian Jaya
Irian Jaya itu Indonesia
Tak ada tempat untuk bintang kejora
Lalu kenapa menuntut merdeka ?
Haruskah membunuh sesama supaya tidak menderita
Haruskah meniadakan saudara sebagai wujud nyata kata sejahtera
Apakah kita harus terbuai dalam manipulasi bintang kejora
Kita ini Indonesia
Bhinekka Tunggal Ika
Semua punya hak yang sama
Tapi jangan lupa terhadap tanggung jawab yang tersedia
Semua berkedudukan setara
Saatnya melihat masa depan realita

Rumah kita memang kurang bersih
Apakah membunuh merupakan bagian dari kasih ?
Ataukah hanya membuat orang risih ?
Apakah perlu ada yang tersisih ?

Ini hanya refleksi papua kini
Seorang akademisi yang peduli
Sudah waktunya kita berbenah diri
Saatnya saling mengawasi
Bukannya tidak percaya terhadap saudara sendiri, ini hanya sekedar antisipasi dini
Waspada terhadap simpul manipulasi orang-orang tak berbudi

Indonesia bisa mandiri jika kita turut mengawasi
Pancasila harus terpatri dihati
Bhinekka Tunggal Ika lambangkan sebuah toleransi ambisi
UUD 1945 jadi pijakan untuk berdikari, berdiri dikaki sendiri
Indonesia didadaku sampai mati
Dari dulu, kini, hingga akhir nanti



Danirl MT Sinaga
Juli, 2011



Saturday, May 21, 2011

Politik Kampus Semu

Malam ini aku terdiam dan terpana
Mengingat kisah yang terjadi sebelumnya disana
Saat malaikat kecil coba mencabut nyawa
Pisahkan jiwa dari raga yang berkelana

Melesat bagai elang, berpindah dan menghilang
Tanpa suara menghadang, tingalkan bayang-bayang senang

Bak melawan waktu, nyaliku pun ikut tertantang
Sedikit bergoyang, nyawa bisa melayang

Seolah sulit menapak
Meskipun telah kucoba jalan setapak
Mereka semua hanya bisa berkata 'fuck'
Tanpa melihat situasi dan dampak
Semua di gulung dengan ombak
Menerjang, menghantam bak peluru tembak
Aku sudah berusaha berontak
Mengabarkan melalui sebuah kontak

Raga ini seakan melayang sejenak diudara
Tanpa kuasa dan daya untuk berkata
Terdiam, terjatuh tanpa bisa menutup mata
Semua tampak nyata dalam kehendak dan kuasa-Nya

Sang malaikat kecil tampak seolah malu-malu berdiri disitu
Tinggalkan goresan biru dan sulaman kelabu
Persetan dengan orang yang ada disekitarku waktu itu
Menoleh sesaat, menggeleng dan berlalu
Seperti inikah kehidupan sosial dikota pembantu
Sok tahu dan hanya membuang waktu
Menoleh dan berlalu bersama rotasi bumi yang terus berpacu

Memang sulit dimengerti hidup dikota batu
Mau maju, yang lain harus tertipu
Berkembang pun via eksploitasi semu
Tanpa arah dan tujuan yang masih keliru

Dasar para pembantu !
Sok tahu dan tetap bau
Berkembang dalam lubang
Berdiam dalam tembang
Semua seperti menjadi lambang
Simbol pasti bagi mereka yang terbuang

Raga ini masih terbaring tanpa kuasa
Seakan tak berdaya meskipun kau kaya
Karena kita kini sudah bicara soal nyawa
Dan yang lain masih sibuk dengan sebuah dansa

Hati ini seolah ingin teriak dan dan berkata : Seperti inikah manusia
Tanpa cakar, bisa menggoreskan luka
Bagaikan taring, kau terus hasilkan kuasa untuk kaya raya demi kata “jaya”
Seperti mengintai 'tuk menerjang babi, diburu dan dinikmati tanpa yang lain duduk bersama

Memang semua ini tak akan pernah habis cerita
Tinggalkan duka dan luka yang membara
Hingga ku rasa perlu untuk taklukan para serigala

Persetan dengan mereka yang seolah peduli
Omong kosong untuk apa yang mereka ucapkan tadi
Partisipasi mereka sepertinya sudah basi

Kaki ini harus tetap menapak
Tak perlu serempak jika tak punya berdampak
Terus mencoba dan berikan waktu menjawab semuanya
Pantang menyerah dan tetap berusaha
Siapkan daya tuk hancurkan para pendosa

Gemerlapan lampu merah-putih seolah membangunkan tidur panjangku
Kusadari kini bahwa salju harusnya telah turun disisi kiriku
Tiba saatnya untuk berkumpul dan bernostalgia bersama keluarga tercinta
Sayangnya “barrack” mas dirman menuntunku untuk terus berjuang tanpa cerita
Berperang melawan kebodohan, meskipun ku tahu itu hanya simbol semata
Orientasinya kini hanyalah harta
Buat aula, surat kuasa, hingga membagi derita untuk mahasiswa
Semua terangkum dalam satu kata, Gila

Rasionalitas kini menjadi semu
Ada komoditas, tujuanmu tak akan buntu
Meskipun semua seolah ingin membantu
Namun ku tahu itu hanya menipu
Tertawa sejenak dan kemudian mengharu

Sulit berkata tanpa ada kuasa disana
Ada daya, kaupun siap disembah bak raja
Tanpa kuasa kau adalah hina dan siap ternoda
Siap ditimpa dan hidup sengsara

Itulah realitas kehidupan
Padahal hanya untuk sebuah makan
Tampak sulit dicari, bahkan hingga keselokan
Jan (terlalu)

Untuk apa ada organ jika makan sulit terpenuhi
Cukup sudah membodohi diri
Jangan pula bodohi orang-orang disini
Mari bersatu, bangun koalisi untuk tujuan non-pribadi (bersama)

Baiklah, aku rasa sudah saatnya menutup kata
Kembali membuka mata terhadap realita kita
Selamatkan dunia dengan cita dan cinta bersama
Peduli tanpa memandang harta
Bekerja tanpa melirik strata
Saatnya berdaya, mari bekerja
Satukan suara, Indonesia Raya



...



Daniel MT Sinaga]
desember, 2010

Tanahku Airku

Ada sebuah tembang mengalun ditengah kekacauan
Kudendangkan sebuah cinta yang indah untuk negeri ini
Dimulai dari tembok besar berdiri tegak menjadi batasan
Dimana Kebebasan berlari karena takut dikebiri
Tanpa solusi, hanya merusak diri
Apa yang telah terjadi ?

Tanahku, Airku
Dirimu takkan lekang oleh waktu
Selalu dimata dan juga pikiranku
Dirimu yang sudah usang dan bau
Engkau kini tampak sudah tidak punya malu
Palumu hanya merusak hatiku
Bergoyang dan kemudian berlalu
Tongkat dilenganmu hanya untuk kebenaran palsu

Keadilan kau selipkan kepentingan diri
Pembangunan ekonomi kini hanyalah sebuah nafsu
Rayuan kekuasaan kini juga telah mengganggu
Tanpa ragu dan terus merayu
Hanya untuk sebuah bangku


Demokrasi kini seakan mati
Efisiensi tanpa transparansi
Eksistensi tanpa koalisi (persatuan)
Seakan hidup sendiri, tanpa yang lain berdiri lagi

Dibalik wibawa kau kau selipkan tipu daya
Tikus-tikus pun kini telah kembali berjaya
Mereka semua hanya bisa tertawa
Sementara yang lain sibuk beretorika
Dan berhenti sebagai sebuah wacana belaka

Tanahku, Airku
Ada apa denganmu ?
Bisikan-bisikan burung telah memekakan telinga
Realita yang ada hanya merusak mata
Terlalu banyak rekayasa
Semua hanya demi sebuah kuasa
Atau hanya untuk perbaikan nama belaka

Tanahku, Airku
Ada apa denganmu ?
Anak-anak kini sibuk berkelahi karenamu
Berebut posisi atas namamu
Wakilmu kini hanya menjadi alat ‘bantu
Keras dan kaku
Legitimasinya bagaikan tahu
Sungguh kasihan negeriku
Hati dan nurani seakan membeku
Yang bicara hanya kepalan tinju
Sampai pada sebuah keprihatinan yang mengharu

Tanahku, Airku
Betapa mahalnya harga sebuah kritik
Melawan penguasa, jabatanmu pun dipetik
Semua itu memang menggelitik
Tapi itulah sebuah taktik

Mereka saling mencubit
Bersemangat karena duit
Meskipun terasa pahit
Budaya itu terus kau bibit
Selalu kau menggunakan karbit
Memfokuskan diri pada duit

Tanahku, Airku
Entah sampai kapan gelap ini berlalu
Kapan lagi akan ku dengar sebuah nyanyian merdu
Bukan wacana, bahkan retorika semu
Bukan bayangan yang menghasut kalbu
Semoga engkau terlahir tidak menjadi babu
Sudah saatnya engkau bersatu
Membangun negeri bahu-membahu
Mari tahan keluhmnu, jangan lagi kaku dan ragu
Mari bersatu padu singkirkan paku
Bersihkan diri dari semua benalu
Bersatulah bangsaku, saatnya berpacu dengan waktu
Tunjukan pada si kepala batu bahwa engkau mampu



.....

[Daniel MT Sinaga]
June, 2010